Cara pakai ChatGPT untuk menulis artikel blog dalam 30 menit
ChatGPT bukan mesin penulis otomatis
Ini penting untuk dipahami sejak awal supaya ekspektasimu realistis.
ChatGPT menghasilkan draft kasar — bukan artikel jadi yang siap publish. Kalau kamu langsung copy-paste hasil ChatGPT tanpa edit, pembaca akan merasakannya: tulisannya terasa generik, tidak punya suara, dan terlalu rapi dengan cara yang tidak terasa manusiawi.
Yang benar-benar bekerja adalah kombinasi. ChatGPT mengurus kerangka dan pengisian awal, kamu mengurus perspektif personal, contoh nyata dari pengalamanmu, dan sentuhan bahasa yang khas. Hasilnya bisa jauh lebih baik dari kalau kamu nulis dari nol, dan jauh lebih autentik dari kalau kamu cuma pakai output mentah AI.
Satu hal lagi: ChatGPT bisa salah. Kadang ia mencantumkan statistik yang terdengar kredibel tapi ternyata tidak akurat. Selalu cek fakta penting sebelum publikasi.
Cara buat prompt yang menghasilkan draft layak pakai
Prompt yang buruk menghasilkan artikel yang buruk. Ini bukan soal kemampuan ChatGPT — tapi soal instruksi yang kamu berikan.
Prompt yang buruk:
“Tulis artikel tentang cara diet”
Hasilnya? Artikel generik yang bisa ditemukan di ratusan blog lain.
Prompt yang bagus:
“Tulis draft artikel blog 600 kata untuk pembaca perempuan usia 25-35 tahun yang sibuk kerja dan belum pernah diet sebelumnya. Topik: 3 cara memulai intermittent fasting minggu ini tanpa merasa tersiksa. Gunakan bahasa santai seperti ngobrol dengan teman. Sertakan satu contoh nyata per poin.”
Perhatikan strukturnya: siapa pembacanya + berapa panjang + topik spesifik + tone yang diinginkan + detail tambahan.
Dua elemen paling penting: kejelasan tentang pembaca (menulis untuk semua orang = menulis untuk tidak ada) dan tone (formal? santai? teknis?).
Edit hasil ChatGPT agar terasa seperti kamu yang nulis
Setelah dapat draft, jangan langsung publish. Lakukan ini:
Hapus kalimat pembuka yang generik. ChatGPT sering mulai dengan “Di era modern ini…” atau “Semakin banyak orang menyadari bahwa…” — hapus saja. Mulai langsung dari poin pertama.
Tambahkan cerita atau contoh dari dirimu sendiri. AI tidak tahu pengalamanmu. Bagian inilah yang membuat artikel terasa nyata. Kalau kamu pernah diet intermittent fasting selama sebulan dan berhasil, ceritakan itu — satu paragraf sudah cukup mengubah keseluruhan feel tulisannya.
Ganti kata-kata yang tidak biasa kamu pakai. Kalau kamu tidak pernah pakai kata “optimal” atau “komprehensif” saat bicara, hapus dari artikel juga.
Cek dan koreksi fakta. Statistik, nama orang, tanggal — verifikasi manual sebelum publish.
Workflow 30 menit dari ide ke draft siap edit
Ini bukan estimasi optimistis — ini benar-benar bisa dilakukan dengan latihan:
- 5 menit: Tulis ide singkat di notepad. Siapa pembacanya? Apa satu hal yang mereka bawa pulang setelah baca? Apa contoh atau cerita yang relevan?
- 10 menit: Buat prompt berdasarkan catatan tadi, masukkan ke ChatGPT, baca output pertama, minta revisi kalau perlu.
- 15 menit: Baca draft, tandai bagian yang terasa flat atau tidak sesuai suaramu, mulai edit dari bagian itu.
Yang butuh waktu lebih lama biasanya adalah editing — dan itu memang bagian yang tidak bisa di-skip. Tapi dengan ChatGPT mengurus struktur dasar, kamu bisa fokus pada yang paling penting: membuat tulisan itu terasa seperti milikmu.
Coba mulai dengan artikel pendek dulu, 400-500 kata. Setelah prosesnya terasa natural, baru kamu scale ke artikel yang lebih panjang.